Sunday, February 24, 2013

Disiplin Eksekusi

4DX
Disiplin Eksekusi Demi Kinerja yang Hebat
Monday, 4 April 2011

Oleh : Sri Wahyuni/Dunamis FranklinCovey

Kinerja yang "baik" mungkin dirasa sudah cukup bagi sebagian organisasi. Pertanyaannya, apakah kinerja yang "baik" itu sudah cukup untuk bertahan di masa ini? Untuk dapat terus hidup dan bertumbuh, setiap perusahaan membutuhkan kinerja yang hebat secara berkesinambungan. Alasannya, Sustainable Superior Results inilah yang memastikan setiap individu, tim, maupun organisasi secara keseluruhan dapat mencapai hasil yang mantap di aspek-aspek organisasional lainnya.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang harus dilakukan untuk mencapai performa demikian? Bagi kami, hal utama yang harus dilakukan adalah mengeksekusi sasaran-sasaran paling penting dari organisasi. Secara disiplin dan konsisten tentunya. Bagaimana caranya? Hal-hal seperti apa yang harus menjadi fokus perusahaan? Apa maknanya jika kita berfokus pada upaya-upaya untuk memperbaiki eksekusi? Apa bedanya eksekusi yang dilakukan tim berkinerja hebat dengan tim yang "biasa-biasa" saja?

FranklinCovey selama lebih dari tujuh tahun terakhir, bekerjasama dengan Jim Collins dan Ram Charan banyak melakukan studi untuk memahami tantangan-tantangan yang berhubungan dengan upaya mencapai sustainable superior results ini pada lebih dari 500 perusahaan dan melibatkan lebih dari 300 ribu karyawan. Riset terakhir dilakukan di bisnis ritel untuk Coca Cola Amerika Utara.

Riset tersebut menghasilkan jawaban dari pertanyaan: Apa faktor-faktor esensial yang membedakan perusahaan yang memiliki kinerja great dengan yang biasa-biasa saja?

Kebanyakan manajer berargumen bahwa bisnis yang dikelola sangat unik dan spesifik, sehingga banyak faktor membatasi potensi mereka untuk mencapai hasil yang luar biasa. Belum lagi kecilnya segmen pasar, meningkatnya harga minyak dunia, kompetisi yang sangat kejam, dan faktor-faktor lainnya. Padahal, sebagian perusahaan yang memiliki kinerja yang hebat tidak bergerak di bisnis yang sepi kompetisi atau memiliki sumber daya tak terbatas, misalnya saja bisnis sewa mobil, perhotelan, penerbangan, hingga bisnis makanan. Sehingga, alasan-alasan tersebut rasanya tidak relevan untuk dihubungkan dengan kinerja yang biasa-biasa.

Riset FranklinCovey mendapati bahwa lemahnya eksekusi strategi adalah penyebab utama kegagalan perusahaan mencapai sasaran-sasaran terpenting. Sebagian besar pemimpin menganggap remeh eksekusi. Ini terbukti ketika mereka diajukan pertanyaan, "Bagaimana Anda mengeksekusi strategi perusahaan?" Ada yang menjawab dengan fokus pada komunikasi internal, menindaklanjuti prosedur, atau hal-hal yang sama sekali tidak relevan dengan aktivitas-aktivitas implementasi strategi. Ketika digali lebih dalam lagi, banyak yang bahkan tidak memahami detil pekerjaan yang mereka sebut sebagai eksekusi strategi.

Krisis ekonomi yang menimpa dunia satu dekade belakangan membuat para pemimpin bisnis menghadapi tantangan untuk mendapatkan hasil jangka pendek sekaligus mempertahankannya untuk kepentingan organisasi untuk jangka panjang. Karenanya sangat relevan bila para manajer, yang memimpin langsung operasional perusahaan, secara disiplin mengeksekusi sasaran-sasaran penting perusahaan untuk memastikan eksistensi perusahaan. Apalagi yang terkait dengan bottom line.

Berikut adalah The Gobal Top 10 Challenges List dari World Economic Outlook Database, yang dikeluarkan IMF pada 2006.

Sebuah firma bidang IT berskala internasional membuktikan betapa disiplin eksekusi menyelamatkan mereka dari kegagalan mencapai target-target penting yang terjadi berulang. Perusahaan memiliki agenda atas 20 sasaran strategis yang diusung setiap divisi. Sayangnya, karena tidak memiliki kejelasan akan prioritas, para karyawan menghabiskan waktu pada aktivitas harian yang tidak mendukung pencapaian sasaran utama perusahaan.

Melalui Disiplin Eksekusi, FranklinCovey akhirnya membantu organisasi menanamkan proses yang jelas serta perubahan perilaku yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan eksekusi strategi perusahaan. Para pemimpin senior menciptakan visi yang jelas, serta menetapkan hanya 3 sasaran strategis yang harus dicapai. Mereka memastikan bahwa visi tersebut, serta kejelasan akan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapainya, dipahami oleh setiap jenjang dalam organisasi. Setiap karyawan mengerti benar bagaimana sasaran-sasaran dari unit masing-masing mendukung pencapaian sasaran organisasi.
Dalam satu tahun, perusahaan bertransformasi menjadi organisasi yang sangat fokus dan mampu mengelola sumber daya, anggaran, serta proyek dengan sangat efektif. Lebih penting lagi, mereka mampu menentukan produk-produk, teknologi, market, serta pelanggan yang bisa "membawa untung."

Eksekusi bukan sesuatu yang baru, hanya saja kemampuan untuk melaksanakan eksekusi secara konsisten dan brilian masih menjadi tantangan terbesar dekade ini.

Eksekusi adalah disiplin yang mendukung perusahaan mencapai sasaran-sasaran strategisnya. Ini membutuhkan kemampuan pemimpin dalam mengidentifikasi dan menajamkan fokus pada sasaran-sasaran dan aktivitas-aktivitas tim yang berdampak kuat terhadap target organisasi. Selanjutnya, pemimpin harus mampu melakukan perbaikan secara terus menerus dan dengan merujuk pada kemajuan yang telah dicapai setiap minggu. Satu hal terpenting dari disiplin eksekusi yaitu memastikan setiap anggota tim memiliki akuntabilitas atas aktivitas-aktivitas yang dilakukan setiap minggunya.

Eksekusi yang efektif memiliki 6 prinsip utama. Kami menyebutnya CCTESA. Clarity, Commitment, Translation of Strategic Goals to Daily Tasks, Enabling, Synergistic Teamwork, dan Accountability.

Eksekusi strategi yang efektif sepintas terlihat serupa dengan taktik-taktik bisnis lain yang dapat dengan mudah diimplementasikan. Namun, tidak demikian faktanya. Tidak semudah itu menerapkan disiplin eksekusi. Tugas-tugas harian yang mendesak kerap menjadi penghalang utama untuk suksesnya sebuah sistem eksekusi. Ini popular disebut "whirlwind."

Whirlwind menyebabkan karyawan kehilangan fokus pada sasaran strategis yang kritikal akibat serbuan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya administratif, krisis-krisis sporadis, email, rapat-rapat, hingga tuntutan atasan yang tidak perkait pekerjaan. Ini tidak bisa diacuhkan karena aktivitas-aktivitas itu yang menjamin berlangsungnya operasional perusahaan. Sifatnya sangat mendesak. Sementara aktivitas eksekusi strategi bersifat vital namun tidak mendesak. Kemampuan menyeimbangkan implementasi eksekusi dan tanggungjawab harian merupakan tantangan terberat dalam disiplin eksekusi.

Mengusung disiplin eksekusi adalah pilihan. Namun, bukan tanpa alasan jika Ram Charan menyatakan, "Today, the greatest difference between a company and its competitors is its ability to execute," dalam buku populernya, Execution: The Discipline of Getting Things Done. Disiplin eksekusilah yang memastikan strategi tidak hanya menjadi simbol, tetapi berperan penting dalam menjamin perusahaan mencapai kejayaannya secara berkelanjutan.

Sri Wahyuni
Product Manager, Dunamis FranklinCovey

Disiplin Eksekusi

0 komentar:

Post a Comment